Sumpahin atau Doain ?

Oleh : Ir. H. Tito Irawan Budi

       Belum lama ini, saya kehilangan notebook yang sangat penting artinya buat saya, diambil orang yang mengaku montir komputer …Dan akhirnya dengan pasrah saya istirja saja….tapi dalam hati saya, ada rasa kesal dan ingin nyumpahin orang ini, karena data data yang sangat berarti buat saya hilang di notebook itu. Tapi saya teringat dengan istirja yang sudah saya ucapkan, bahwa saya menginginkan yang lebih baik.. Jadi sumpah serapah terhadap orang yang mencuri itu tidak saya ucapkan, Dengan sedikit bergaya detektif , saya berusaha melacak, dan ternyata tidak berapa lama notebook saya, dikembalikan oleh ibu si pencuri  ini, yang  mengetahui kelakuan anaknya yang ternyata residivis.. Si ibu dengan hati besar menceritakan kelakuan anaknya itu… Akhirnya saya maafkan saja, dan saya tidak melanjutkan masalah ini ke polisi, yang penting notebook  itu bisa kembali.. Hikmahnya adalah ternyata istirja dan doa itu penting sekali saat kita tertimpa cobaan dan musibah, maupun terzolimi.

       Bagaimana jadinya kalau setiap dizolimi, kita tidak mendoakan tapi hanya menyumpahi saja, bisa jadi kejahatan akan terus bertambah, simpati tidak akan datang, bahkan permusuhan dimana mana. Atau kita berkata ‘terserah Allah untuk menghancurkan setiap orang yang menzolimi kita. Kadangkala, diejek teman tidak cukup balas mengejek, ditambah memukul plus sebaris sumpah, “Saya sumpahin mulutmu sobek…”. Waktu masih mahasiswa, di tempat kontrak  ada teman yang mengambil makanan di meja tanpa izin, si pemilik berucap, “Yang makan makanan saya perutnya buncit seumur hidup”. Pernah juga kita mendengar, “Saya sumpahin tertabrak kereta itu orang,” dari mulut orang yang baru saja kecopetan. Ketika didzalimi, kemudian kita menangis dan meminta bantuan Allah, “Ya Allah, hukumlah seberat-beratnya orang ini…”. Cerita lain, “dia sudah menyakiti saya selama bertahun-tahun, kebahagiaan saya adalah kalau melihat dia sengsara seumur hidup…” Waduuuh…ngeri amattt…

       Bagaimana Rasulullah SAW menyikapi saat dia dizolimi.?Seandainya Rasulullah berkata, “Terserah…” ketika Malaikat menawarkan diri untuk membalikkan gunung untuk ditimpakan kepada masyarakat Thaif yang telah menolak, menghina dan mendzalimi Rasulullah dan para sahabatnya, mungkin tidak ada orang beriman dari kota Thaif, dan cerita selanjutnya pun akan berbeda. Justru saat itu Rasulullah SAW melarang malaikat menghancurkannya, bahkan mendoakan orang Thoif itu”Mudah mudahan akan terlahir dari mereka keturunan yang sholeh”…dan ternyata benarlah, banyak pejuang Islam lahir dari penduduk  Thaif yang menganiayanya.

       Kalau Muhammad Rasulullah Saw kecewa dan marah, dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan malaikat-Nya untuk memberikan ganjaran yang setimpal –atau seberat-beratnya- kepada para penduduk yang membenci dan mencederainya, maka sejarah tentang keteladanan Muhammad tidak akan terukir indah. Sebab segala apa yang dilakukan Rasulullah, sejak dari kecil hingga besar, mulai dari diamnya, kata-katanya, duduk, berdiri dan jalannya, serta gerak-gerik sekecil apapun adalah kisah-kisah indah yang tak terpisahkan.

      Misalkan masyarakat Thaif benar-benar musnah setelah ditimbun gunung atas seizin Rasulullah, dan masyarakat di kota-kota lainnya melihat apa yang terjadi di Thaif itu, mungkin mereka yang sebelumnya terpesona dengan ajaran Islam akan mundur dan lari dari Islam. Yang semula memuji akhlak Muhammad, akan mencibir dan tak lagi mau menjadi pengikutnya, menyelami dan mengamalkan ajarannya Nabi Allah yang terkenal karena kemuliaan hati dan akhlaknya itu tak sedikitpun marah, apalagi menaruh dendam atas penolakan dan penghinaan yang diterimanya. Padahal, kalau ia mau, orang yang meludahinya bisa saja tiba-tiba tidak bisa bicara, atau putus lidahnya. Kemudian orang yang menghina mulutnya penuh borok yang tak kan pernah sembuh seumur hidup. Batu yang diarahkan ke dirinya berbalik mengenai yang si pelempar, yang menendang kakinya lumpuh, bahkan sekadar memeloti saja bisa buta.

      Muhammad bisa bilang, “Ya Allah, dia mengejek saya, cabut nyawanya sekarang” maka matilah orang itu. Bisa juga Muhammad berdoa, “Ya Allah, siapapun yang menolak saya, putuskan rezekinya”, atau doa, “Orang ini tak menerima ajaran Islam, bahkan menghasut orang lain untuk menolaknya, buatlah ia miskin ya Allah”. Atau setidaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, “Terserah Engkau ya Allah akan ditimpakan musibah jenis apa mereka yang telah menghina agama-Mu…”

       Tapi fasilitas itu tidak diminta oleh Muhammad, karena ia tahu masyarakat akan semakin menolak dan membencinya. Dakwah Rasulullah justru berhasil dengan kemuliaan akhlak dan tutur kata. Keindahan perilaku Muhammad berbuah manis dengan diterimanya Islam di kemudian hari. 

         Kita yang dizolimi harus ingat bahwa doa orang yang didzalimi tidak ada batas, bisa langsung terijabah. Hati-hati dengan doa yang diucapkan ketika kita marah dalam keadaan terdzalimi, perselisihan yang semestinya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari, bisa berkepanjangan akibat sumpah dan doa buruk dari kita. Rasulullah mencontohkan dua hal; maafkan dan doakan untuk kebaikannya. Tidak perlu merasa rugi mendoakan kebaikan untuknya, Insya Allah kita mendapatkan lebih banyak kebaikan dari yang ia terima. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW saat kita terzolimi,Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s