Perang Badar (II)

Ketika  sampai  pada suatu  tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita  dari  sebuah  tempat  di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari  kedua  orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh  ekor ternak yang mereka potong,”  jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih  besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan  itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.
Rasulullah mengutus dua orang Muslimin berangkat menuju lembah Badr. Mereka berhenti diatas sebuah bukit tidak jauh dari tempat mata air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya lalu mereka dengan air. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang budak perempuan, yang agaknya  sedang  menagih  hutang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab, “Kafilah  dagang  besok  atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan hutang segera akan kubayar”.

Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah. Tetapi, sementara itu Abu Sufyan sudah mendahului mencari-cari berita. Ia kuatir Muhammad akan sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat mata air ia bertemu dengan Majdi bin ‘Amr dan menanyakan situasi disitu. Majdi menjawab bahwa ia melihat  ada  dua  orang  berhenti  di bukit  itu  sambil  ia  menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim tadi berhenti.  Abu  Sufyanpun  pergi  mendatangi tempat  perhentian  tersebut.  Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta  dan  setelah  diperiksanya,  diketahuinya,  bahwa   biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib (Madinah).

Cepat-cepat  Abu Sufyan kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi  setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang dari kaum muslimin yang tadinya mempunyai harapan penuh akan mendapatkan harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang diantaranya bertukar pikiran dengan Rasulullah dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu  berhadapan dengan  mereka yang datang dari Mekkah hendak berperang. Ketika itu turunlah firman Allah:

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua golongan yang kalian hadapi adalah untuk kalian, sedang kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”. Q:S 8:7

Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu  apa  mereka  berperang, perdagangan  mereka  sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak  Islam  kembali ke tempat  mereka. Abu  Sufyan juga  berpikir  begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada  Quraisy  mengatakan, “Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita.  Sekarang  kita sudah  diselamatkan Tuhan. Kembalilah”. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.

Tetapi Abu Jahal ketika mendengar  kata-kata ini, tiba-tiba berteriak, “Kita  tidak  akan  kembali  sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita  memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi.  Biar mereka itu mendengar  dan  mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita”.

Sebab pada waktu itu Badar merupakan  tempat  pesta  tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik  diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi  akan  ditafsirkan oleh orang-orang  Arab bahwa mereka takut kepada Muhammad  dan para pengikutnya. Ini berarti kekuasaan Muhammad akan makin  terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya  satuan  Abdullah bin  Jahsy, terbunuhnya  Ibn’l-Hadzrami,  dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.

Orang-orang Quraisy jadi ragu-ragu antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut,   atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup  meraka taati.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini  mereka  mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik  sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan,  sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu mereka punsegera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun. Setelah mereka sudah mendekati mata  air, Rasulullah berhenti.

Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling banyak mengenal  tempat  itu, setelah  dilihatnya Rasulullah turun di tempat tersebut, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa alasan tuan berhenti di tempat ini? Kalau memang ini adalah wahyu Allah, kita takkan maju atau mundur  setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini hanya sekedar pendapat tuan sendiri dan sebagai suatu taktik perang?”

“Ini hanya sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,”  jawab Rasulullah. “Wahai Rasulullah,”  katanya  lagi.  “Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dengan mereka, lalu  sumur-sumur  kering  yang dibelakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”

Melihat saran Hubab yang begitu tepat, Rasulullah dan kaum Muslimin segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat teman mereka itu, sambil mengatakan kepada para sahabat bahwa beliau juga manusia biasa seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama. Beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar musyawarah dengan para sahabat. Beliau perlu sekali mendapat masukan-masukan positif dari sesama mereka sendiri.

Selesai kolam itu dibuat, Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Wahai Rasulullah” katanya, “Tidakkah kami perlu membuatkan kemah khusus untuk istirahat tuan serta kami siapkan kendaraan  tuan. Kemudian  barulah  kami  yang  akan menghadapi  musuh. Jika Allah memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun yang terjadi adalah sebaliknya, dengan kendaraan itu tuan dapat menyusul teman-teman yang  ada di belakang kita. Wahai Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang dan cinta mereka kepada Tuanku tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Seandainya mereka tahu bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak  akan  berpisah  dari tuan. Mereka benar-benar ikhlas berjuang  bersama tuan.”

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’ad itu. Dibangunlah sebuah kemah untuk Rasulullah.  Jadi  bila  nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, Rasulullah takkan jatuh ke tangan musuh dan masih akan dapat bergabung dengan para sahabat di Madinah.

Disini orang  perlu  berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan  Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya.  Mereka semua mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar daripada kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan. Dan mereka inilah yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta  rampasan dari kafilah dagang Abu Sufyan. Namun begitu bukan karena pengaruh materi itu yang mendorong mereka siap bertempur disisi Rasulullah, memberikan  dukungan serta kekuatan. Disisi lain mereka yang juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi pikiran mereka selalu hendak melindungi dan menyelamatkan Rasulullah dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan bagi Rasulullah untuk menghubungi  orang-orang  yang masih tinggal di Madinah.  Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini?

Selanjutnya pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan  laporan  tentang  keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa  jumlah kaum Muslimin lebih  kurang  tiga ratus tiga belas orang, tanpa pasukan pengintai,   tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka  sendiri. Tiada seorang dari mereka akan rela mati terbunuh, sebelum dapat membunuh lawan.
Oleh:  Ust. H. Dave Ariant Yusuf

(Bersambung)

Ketika  sampai  pada suatu  tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita  dari  sebuah  tempat  di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari  kedua  orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh  ekor ternak yang mereka potong,”  jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih  besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan  itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Rasulullah mengutus dua orang Muslimin berangkat menuju lembah Badr. Mereka berhenti diatas sebuah bukit tidak jauh dari tempat mata air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya lalu mereka dengan air. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang budak perempuan, yang agaknya  sedang  menagih  hutang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab, “Kafilah  dagang  besok  atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan hutang segera akan kubayar”.

Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah. Tetapi, sementara itu Abu Sufyan sudah mendahului mencari-cari berita. Ia kuatir Muhammad akan sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat mata air ia bertemu dengan Majdi bin ‘Amr dan menanyakan situasi disitu. Majdi menjawab bahwa ia melihat  ada  dua  orang  berhenti  di bukit  itu  sambil  ia  menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim tadi berhenti.  Abu  Sufyanpun  pergi  mendatangi tempat  perhentian  tersebut.  Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta  dan  setelah  diperiksanya,  diketahuinya,  bahwa   biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib (Madinah).

Cepat-cepat  Abu Sufyan kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi  setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang dari kaum muslimin yang tadinya mempunyai harapan penuh akan mendapatkan harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang diantaranya bertukar pikiran dengan Rasulullah dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu  berhadapan dengan  mereka yang datang dari Mekkah hendak berperang. Ketika itu turunlah firman Allah:

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua golongan yang kalian hadapi adalah untuk kalian, sedang kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”. Q:S 8:7

Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu  apa  mereka  berperang, perdagangan  mereka  sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak  Islam  kembali ke tempat  mereka. Abu  Sufyan juga  berpikir  begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada  Quraisy  mengatakan, “Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita.  Sekarang  kita sudah  diselamatkan Tuhan. Kembalilah”. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.

Tetapi Abu Jahal ketika mendengar  kata-kata ini, tiba-tiba berteriak, “Kita  tidak  akan  kembali  sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita  memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi.  Biar mereka itu mendengar  dan  mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita”.

Sebab pada waktu itu Badar merupakan  tempat  pesta  tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik  diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi  akan  ditafsirkan oleh orang-orang  Arab bahwa mereka takut kepada Muhammad  dan para pengikutnya. Ini berarti kekuasaan Muhammad akan makin  terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya  satuan  Abdullah bin  Jahsy, terbunuhnya  Ibn’l-Hadzrami,  dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.

Orang-orang Quraisy jadi ragu-ragu antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut,   atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup  meraka taati.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini  mereka  mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik  sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan,  sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu mereka punsegera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun. Setelah mereka sudah mendekati mata  air, Rasulullah berhenti.

Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling banyak mengenal  tempat  itu, setelah  dilihatnya Rasulullah turun di tempat tersebut, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa alasan tuan berhenti di tempat ini? Kalau memang ini adalah wahyu Allah, kita takkan maju atau mundur  setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini hanya sekedar pendapat tuan sendiri dan sebagai suatu taktik perang?”

“Ini hanya sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,”  jawab Rasulullah. “Wahai Rasulullah,”  katanya  lagi.  “Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dengan mereka, lalu  sumur-sumur  kering  yang dibelakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”

Melihat saran Hubab yang begitu tepat, Rasulullah dan kaum Muslimin segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat teman mereka itu, sambil mengatakan kepada para sahabat bahwa beliau juga manusia biasa seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama. Beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar musyawarah dengan para sahabat. Beliau perlu sekali mendapat masukan-masukan positif dari sesama mereka sendiri.

Selesai kolam itu dibuat, Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Wahai Rasulullah” katanya, “Tidakkah kami perlu membuatkan kemah khusus untuk istirahat tuan serta kami siapkan kendaraan  tuan. Kemudian  barulah  kami  yang  akan menghadapi  musuh. Jika Allah memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun yang terjadi adalah sebaliknya, dengan kendaraan itu tuan dapat menyusul teman-teman yang  ada di belakang kita. Wahai Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang dan cinta mereka kepada Tuanku tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Seandainya mereka tahu bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak  akan  berpisah  dari tuan. Mereka benar-benar ikhlas berjuang  bersama tuan.”

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’ad itu. Dibangunlah sebuah kemah untuk Rasulullah.  Jadi  bila  nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, Rasulullah takkan jatuh ke tangan musuh dan masih akan dapat bergabung dengan para sahabat di Madinah.

Disini orang  perlu  berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan  Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya.  Mereka semua mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar daripada kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan. Dan mereka inilah yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta  rampasan dari kafilah dagang Abu Sufyan. Namun begitu bukan karena pengaruh materi itu yang mendorong mereka siap bertempur disisi Rasulullah, memberikan  dukungan serta kekuatan. Disisi lain mereka yang juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi pikiran mereka selalu hendak melindungi dan menyelamatkan Rasulullah dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan bagi Rasulullah untuk menghubungi  orang-orang  yang masih tinggal di Madinah.  Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini?

Selanjutnya pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan  laporan  tentang  keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa  jumlah kaum Muslimin lebih  kurang  tiga ratus tiga belas orang, tanpa pasukan pengintai,   tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka  sendiri. Tiada seorang dari mereka akan rela mati terbunuh, sebelum dapat membunuh lawan.
Oleh:  Ust. H. Dave Ariant Yusuf
[bersambung]

 
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s