ME‘MODIFIKASI’ TATA CARA IBADAH DAN MERUBAH HUKUM ALLAH?

Oleh: Sihabudin                                                                                                                                                                        21 Oktober 2010

Suatu hari saya sholat maghrib  di masjid di salah satu wilayah kota Solo. Sholat  jamaah magrib di masjid itu sudah selesai sehingga saya sholat sendiri.  Sebagian besar jamaah sholat sudah pulang. Tinggal beberapa orang yang masih berdoa. Posisi saya kira-kira tiga meter  di belakang tempat imam. Usai sholat, segera setelah saya selesai berdzikir dan berdoa, ada orang yang sholat di depan saya.

Sholatnya sangat aneh! Setelah takbir langsung sujud satu kali dan berdiri lagi. Berdiri tidak lama, perkiraan  saya waktu sesingkat itu tidak cukup untuk baca ummul kitab dan satu surat Al-Quran paling pendek sekalipun, kemudian dia ruku berkali-kali  dilanjutkan  sujud berkali-kali juga. Selanjutnya dia meneruskan  sholat tetap dengan tidak beraturan hingga salam. Selesai salam dia langsung berdiri ngeloyor pergi berjalan keluar masjid.  

Astaghfirullah! Saya penasaran. Saya dekati orang yang sedang duduk  di dekat tempat imam. Sepertinya sudah selesai dzikir jadi saya berani mendekat.  Sambil senyum (tidak mungkin sambil melotot, kan?) saya salami orang itu dan saya duduk di dekatnya. Sok-sok akrab, gitu!

Iseng-iseng saya tanya: “Maaf pak, tadi yang sholat di situ siapa?”, sambil menunjuk tempat ‘orang aneh’ tadi sholat.

“Oohh…yang di situ tadi? Itu sih orang gila! Kalau orang sini sudah biasa, nggak kaget”, jawab orang itu.

“Ooo…!”, saya tertegun.

Spontan saya  langsung berkata  dalam hati , ‘wah pantas sholatnya kacau begitu, namanya juga  orang gila!’ Setelah itu kami ngobrol sekedar basa-basi dan pamit.

Dalam perjalanan pulang saya masih teringat bagaimana gerakan-gerakan orang gila itu dalam sholatnya. Tidak beraturan. Loncat-loncat urutannya. Sangat ekstrim ‘modifikasi’nya. Kalau orang gila itu seorang modifikator motor, barangkali motornya akan dirombak total. Stangnya diganti stir mobil  ditaruh di bawah bagian belakang. Klalpot dipindah di atas, cerobong asapnya  diganti kaleng roti menghadap ke depan. Sadel dibuat dengan posisi vertical. Bannya diganti dengan ban buldozer. Pokoknya heboh! Sah-sah saja mau di modifikasi seamburadul apapun. Tidak ada yang melarang. Lah, motor punya sendiri. Beda kalau yang dimodifikasi motor orang lain dari hasil mencuri.

Tapi itu kan motor? Sedangkan sholat atau ibadah yang sudah ada tuntunan dari Rosulullah sholallahu ‘alaihi wasalam apakah boleh dimodifikasi seperti motor, diinovasi layaknya mobil, atau di’recycle’ seperti lagu Madu dan Racun.

Apa  jadinya agama ini jika tata cara ibadahnya bisa dimodifikasi, diinovasi atau dirubah semau sendiri? Sholat duhur yang seharusnya empat roka’at, karena alasan waktu duhur  pas sibuk-sibuknya kerja, maka dirubah menjadi dua rokaat. Biarlah sholat subuhnya yang empat roka’at, hitung-hitung  sekalian olahraga pagi. Sementara orang lain berbeda, dengan argumen yang berbeda pula. Sholat subuhnya satu roka’at karena kerjanya sampai larut malam sehingga pas waktu sholat shubuh masih capai. Kalau cuma  satu roka’at, habis  sholat subuh bisa tidur lagi. Nanti baru pas waktu  duhur sholatnya lima roka’at atau tujuh roka’at.

Bagaimana jika dua orang ‘inovator’ sholat ini kebetulan ketemu di satu masjid harus berjamaah? Si imam sholat duhur lima atau tujuh roka’at, sementara si makmum sholat dua roka’at. Bisa-bisa si imam ditendang dari belakang oleh makmum. Wah, kacau! Bagaimana pula jika ada sepuluh orang, atau seratus, atau seribu, atau bahkan puluhan ribu orang sholat jamaah dengan roka’at yang berbeda menurut selera masing-masing? Efeknya akan sangat luar biasa!  Ini baru contoh satu  ibadah, dan satu point perbedaan roka’at di dalam sholat.  

Bagaimana dengan ‘kreasi’ gerakan sholat, kalau dibebaskan? Ada yang setelah takbir langsung tangannya dalam posisi hormat, karena berfikir bahwa komandan upacara dan bendera merah putih saja setiap Senin pagi dihormati, apalagi Allah lebih patut dihormati. Atau takbir langsung gerakan karate ‘morote tsuki’, yaitu gerakan kaki kiri maju ke depan  pasang kuda-kuda dan tangan kanan  memukul. Atau gerakan metal sambil menjulurkan lidah. Atau gerakan khas Michael Jackson, habis takbir  bokong bergerak maju sambil telapak tangannya mengelus alat vitalnya.  Semua orang bisa berkreasi atas nama ‘kebebasan berkreasi’ dalam gerakan sholat. Boleh jadi setelah  takbir, bukannya khusuk baca Al-Fatihah, tapi malah bisa terjadi tawuran di masjid.  

Bagaimana dengan ibadah-ibadah yang lain, jika kita boleh ‘modifikasi’?  Hak waris anak yang secara hukum pembagiannya ‘sapikul sagendongan’ atau anak laki-laki dua bagian dan anak perempuan satu bagian, bisa menjadi sama rata, karena sekarang jamannya emansipasi, atas nama kesetaraan gender, perempuan juga bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga, dan berbagai macam argumentasi lainnya.

Masalah poligami juga menjadi kontroversi bagi para pejuang ‘modifikasi’ agama. Kalau laki-laki boleh poligami kenapa perempuan tidak boleh poliandri? Okelah mereka berargumentasi dengan berbagai macam alasan. Tapi bagaimana akibatnya jika benar poliandri  terjadi, yaitu seorang perempuan mempunyai beberapa suami?  Ketika si istri hamil, akan menjadi perdebatan siapa ayah bayi yang dikandung. Mungkin bisa dilacak dari usia kehamilan sehingga bisa ditentukan kapan benih tertanam (misalnya kurun waktu satu minggu) dan pada kurun waktu  itu suami yang mana yang mendatangi istrinya? Masalahnya bagaimana jika semua suami merasa mendatangi istrinya pada kurun waktu  itu? Ya, test DNA untuk menentukan siapa bapak si jabang bayi! Sementara biaya test DNA sangat mahal. Menurut Kepala Unit DNA Forensik, Eijkamn Institute, Herawati Sudoyo, untuk satu kali tes saja bisa memakan biaya hingga Rp 5 juta.

Misalnya biaya tidak menjadi kendala pun akan timbul masalah lain. Misalnya hasil test DNA ditentukan si ayah bayi adalah suami kedua. Setelah si bayi umur tiga tahun (lagi lucu-lucunya), si suami pertama memperhatikan kuping bayi dan teriak : “Wah kupingnya mirip kuping saya, nih! Berarti ini anak saya!”  Suami ketiga juga berkata : “Jidadnya jenong seperti saya, berarti anak saya!”. Giliran sudah remaja dan terkena kasus narkoba, masing-masing suami tidak mengakui sebagai anaknya. Suami pertama bilang menunjuk suami kedua: “Tuh, anak lo tuh! Kan test DNA sama dengan lo!”.  Suami kedua  mengelak bilang ke suami ketiga : “Lah, kan kamu yang bilang sendiri kalau jidadnya mirip dengan kamu! Berarti anak kamu!”. Suami ketiga tidak mau kalah berkata ke suami pertama : “bukannya kupingny persis mirip ente? Ya ente dong bapaknya!”. Nah, lho! Ribet,kan?

Ini baru masalah emansipasi dengan dua point masalah,  hak waris dan poligami. Bisa dibayangkan akan menjadi apa agama ini, jika semua aturan hukum di’modifikasi’?!

Karena itu Rosulullah  sholallahu ‘alaihi  wasallam wanti-wanti memperingatkan :

 Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.                                                                                                                                                                      Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah lewat Malaikat Jibril disampaikan kepada Rosulullah sholallahu ‘alaihi  wasallam yang sekaligus sebagai model/sample ‘uswatun hasanah’ yang wajib diikuti oleh umat Islam.

Ibadah, termasuk sholat,  adalah ‘order’ dari Allah kepada manusia.

 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu”. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kalau seorang Customer jika mengorder barang atau jasa,  maka customer  tersebut akan memberi sample berupa barang  serta  spesifikasi yang diinginkannya atau qualitas jasa yang diharapkan kepada produsen atau penjual jasa.  Apalagi Allah Yang Maha Tahu! Allah  memberi petunjuk bagaimana caranya beribadah berupa  kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, sekaligus sample sosok manusia, yaitu Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam  untuk memberi  contoh bagaimana tata cara beribadah. 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu.”[QS. Al-Ahzaab: 21]

Sample adalah suatu yang akan menjadi standar dari barang atau jasa yang akan dipesan. Jika pesanan sesuai standar maka barang atau jasa tersebut dikatakan berkualitas.  Terlebih lagi Allah Yang Maha Kuasa yang telah menyempurnakan ad-diin kepada kita umatNya.

 Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Kalau agama sudah sempurna lalu kenapa kita harus repot-repot menambahi atau mengurangi tata cara  ibadah dan merubah hukum Allah? Apakah kita merasa lebih pandai dari Allah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s