Pemerintah Imbau Rayakan Idul Adha 1431 H Secara Bersamaan

Jakarta -Pemerintah mengimbau ormas-ormas Islam merayakan hari raya idul Adha 1431 H/2010 secara bersamaan. Namun demikian, pemerintah mengaku tak bisa memaksakan kehendak bagi yang berbeda dan menyerahkan keputusan kepada ormas yang bersangkutan.

“Sholat Idul Adha itu sunnat, tapi persatuan umat itu wajib,” kata Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Prof Dr Nasaruddin Umar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/10) menangapi kemungkinan terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah.

Ditemui seusai membuka seminar bertajuk “Tinjauan analisis tentang terorisme,” Dirjen Bimas Islam menyatakan, pihaknya dalam penetapan hari raya hanya sekedar mengimbau ormas-ormas Islam. “Kita tidak boleh memaksakan, kalau sudah kita imbau tidak juga mau, ya kita serahkan kepada masing-masing,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, perayaan idul Adha kali ini berpotensi berbeda karena hilal 10 Dzulhijjah berada di bawah ufuk. Sehingga fakta ini dipandang oleh para ilmuwan mustahil hilal bisa terlihat. “Hampir keseluruhan minus 1 derajat dan hanya minoritas 1,33 derajat itupun di luar sulit terlihat,” katanya. Ia lebih lanjut mengatakan, pemerintah terus berupaya menyatukan pandangan penetapan Idul Adha 1431.

Pemerintah berencana mengadakan pertemuan membahas kemungkinan bersatu antarormas. Termasuk menyelenggarakan hisab rukyat yang rencananya akan digelar pada tanggal 6 November mendatang. Meskipun disadari langkah penyatuan tersebut sulit kecuali ada toleransi Muhammadiyah untuk bersatu merayakan Idul Adha.

Akan tetapi, besar harapan pemerintah perayaan Idul Adha bisa dilaksanakan secara serentak menunggu hasil sidang Badan Hisab Rukyat, Kemenag. Sebagai contoh, di Arab Saudi, keputusan perayaan idul Adha menunggu hasil rukyat yang digelar oleh pemerintah setempat. “Upaya penyatuan Idul Adha seharusnya tak terganjal karena Idul Adha hukumnya Sunnat,” kata dia.

Seperti diketahui Muhammadiyah menurut kalender hisab organisasi ini telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1431H jatuh pada hari Ahad, 7 November 2010. Dengan demikian Muhammadiyah memutuskan 10 Dzulhijjah jatuh pada hari Selasa, 16 November. “Muhammadiyah tidak ada perubahan, walaupun separuh Indonesia posisi hilal masih dibawah ufuk,” kata Nasaruddin.

Ia berharap, masing-masing ormas Islam termasuk juga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dapat duduk bersama membahas masalah penetapan hari raya ini. “Saya menduga susah mempersatukan, kecuali Muhammadiyah bertoleransi,” ujarnya.

Namun jika tetap juga berbeda dalam penetapan hari raya Idul Adha 1431 H, Nasaruddin hanya mengimbau agar masalah ini jangan sampai menimbulkan perpecahan diantara umat Islam. “Monggo, itu kan sunnah,” kata Rektor PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran) ini.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s