Wedhus Gembel, Mbah Maridjan dan Kita

0leh :Sihabudin

Wedhus gembel ngamuk. Apakah karena tidak mau dijadikan hewan Qurban pada Hari Raya Idul Adha dua minggu mendatang? Tentu saja tidak!

Wedhus gembel adalah sebutan untuk awan  panas dari gunung Merapi yang ada di wilayah Sleman, Yogyakarta. Seperti yang sudah kita ketahui, Gunung Merapi meletus atau erupsi dua kali pukul 17.02 dan 17.23 WIB, Selasa (26/10/2010).

Letusan inilah yang menimbulkan semburan awan panas atau wedhus gembel. Semburan wedhus gembel mencapai ketinggian 1,5 kilometer.  Menurut berita di Kompas,  setelah itu terjadi hujan abu hingga pukul 20.00 yang radiusnya melebihi 20 km. Artinya melebihi batas aman  bencana yang diprediksi oleh para ahli, yaitu 10 km.Wedhus gembel inilah yang menewaskan mbah Maridjan dalam posisi sujud di rumahnya yang berjarak 5 km dari gunung Merapi, dan puluhan  korban lainnya.

Bertahannya mbah Maridjan untuk tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya adalah karena dia sebagai abdi dalem keraton memegang teguh amanah   sebagai juru kunci gunung Merapi yang ditugaskan oleh keraton Yogyakarta sejak 40 tahun yang lalu. Juga atas keyakinannya bahwa hanya Tuhan yang tahu kapan Merapi akan meletus. “Saya tidak punya kuasa apa-apa,” katanya.

Fenomena ini menurut saya sangat menarik karena bisa dijadikan pelajaran atau hikmah bagi kita semua. Pertama, meletusnya gunung Merapi itu sendiri merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Bahwa Allah adalah Malikul Mulk. Allahlah Sang pemilik tunggal, pemilik dan penguasa segala kerajaan.  Allahlah yang berkuasa, memiliki kekuasaan dan otoritas tanpa batas. Allahlah yang memiliki semua wewenang untuk bertindak dengan cara apapun, kapan saja, dengan cara apapun.  Dia  adalah Tuhan dan penguasa atas seluruh dunia, baik yang nyata atau tidak nyata. Allahlah  yang memiliki semua penguasaan dan wewenang untuk memutuskan apa yang akan diciptakan, apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus dihentikan. Lalu apalah artinya kita jika kita tidak beribadah kepada Allah!

Kedua, para ahli memprediksi bahwa semburan awan panas tidak akan melebihi radius 10 km. Sehingga ditentukan batas aman bencana adalah  10 km. Tetapi Allah berkehendak lain, bukan hanya 10 km, tapi malah melebihi 20 km.  Lagi-lagi Allah memberi  peringatan kepada kita bahwa ilmu kita sangat terbatas dibandingkan dengan ilmu Allah yang  tak terhingga. Lalu kesombongan apalagi yang akan kita pertunjukkan, selain minta petunjuk dan berdoa kepada Allah.

Ketiga, mbah Maridjan adalah sosok yang perlu kita contoh dari sisi tabiat beliau sebagai orang amanah dan dapat dipercaya. Rosulullah  saw sendiri sebelum menjadi nabi merupakan sosok yang jujur dan amanah, sehingga diberi gelar Al Amin (si jujur) oleh kaum Qurasy waktu itu. Bahkan Khodijah berani melamarnya juga karena tabiat jujur dan amanahnya, padahal sebagai seorang janda yang cantik dan kaya raya banyak yang mau melamarnya.

Medah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita.

5 responses to “Wedhus Gembel, Mbah Maridjan dan Kita

  1. Iya kita semua bisa mengambil hikmah dari bencana yang selalu menimpa bangsa Indonesia. Salam kenal🙂
    http://qflee.wordpress.com

  2. @qflee, salam kenal juga. saya sudah buka blognya. Nice blog, I like it! Terima kasih!

  3. menurut saya mbah marijan tidak bisa diteladani, karena dia dpt tugas dari Sultan IX ,sedangkan beliau sudah wafat. Dia tidak mau tunduk/taat dengan sultan sekarang Sultan X. Sultan juga berkomentar orang2 yg tidak mau ngungsi karena sombong atau punya keyakinan sendiri. nahh !!!!

  4. sy setuju dg pndapat saudaraku @mand…….bhw mbah Marijan tidak bisa diteladani secara keseluruhan. Waktu menulis sy masih belum punya referensi yang bnyak karena baru bbrapa hari stlh erupsi, itulah sebabnya sy hanya menekankan dari sisi “amanah dan dapat dipercaya” dalam mengemban tugasnya. Adapun stlah kita tahu mbah Marijan tidak taat perintah Sri Sultan X, tentunya tidak patut kita teladani. Terimakasih atas sumbangan pemikirannya. Jazaakallohu khoiro!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s