Saya Pernah Menangis Ketika Akan Memberi Orang

Oleh : Sihabudin

“Wah, temen kita suaminya Cina, loh!” “Yang bener? Tajir, dong!” Barangkali begitulah ketika kita menggambarkan orang Cina. Pengusaha, kaya, pokoknya tajir! Tapi saya pernah punya tetangga, waktu masih ngontrak, seorang Cina yang tidak seperti apa yang kita bayangkan dari kebanyakan orang Cina di Indonesia, yaitu mapan.

Tetangga saya ini orangnya kerja serabutan. Salah satunya membuat kue kemudian dititipkan ke warung-warung. Hanya kira-kira dua tahun saya bertetangga dengan orang Cina tersebut. Karena saya, Alhamdulillah, beli rumah dan pindah di perumahan. Bayar tapi nyicil, begitulah pelesetan dari singkatan BTN.

Beberapa tahun kemudian mantan tetangga yang orang Cina itu datang ke rumah saya di perumahan. Dia menceritakan panjang lebar kondisi ekonominya saat itu. Kemudian menyampaikan mau pinjam uang untuk modal usaha sebanyak Rp. 25.000,-. Nilai duapuluh limaribu untuk mata uang rupiah sekitar tahun 1992-an tentu relatip besar, apalagi dengan kondisi ekonomi saya yang masih pas-pasan.

Waktu itu saya hanya punya uang Rp. 35.000,-. Terjadi perang batin. Kalau saya memberi pinjaman, sisa uang yang saya miliki tinggal RP. 10.000,-. Apakah sisa uang segitu cukup untuk kebutuhan keluarga hingga akhir bulan? Tapi kalau saya tidak memberikan pinjaman modal, bagaimana dengan usahanya?

Barangkali hanya dengan modal itu dia bisa berdagang untuk menyambung hidup. Memberi nafkah kepada anak dan istrinya. Kemungkinan dia sudah berusaha pinjam kemana-mana tapi tidak berhasil. Sehingga dia nekad jauh-jauh datang ke rumah saya yang berjarak kira-kira 5 km dari rumahnya. “Tunggu sebentar,ya!”, kata saya. Serta merta saya menuju ke kamar untuk mengambil uang.

Tentu uang itu tidak saya simpan di brangkas. Uang itu saya simpan di kantong celana. Saya ambil celana saya dan saya rogoh kantongnya. Begitu saya pegang uangnya, perang batin kembali lagi menggoncang dadaku. “Ya Allah….saya juga butuh uang ini, Allah! Tapi orang ini mungkin lebih butuh dari saya! Saya percaya kepada engkau Allah! Engkau pasti akan menggantinya berlipat ganda!”, kataku dalam hati.

Tidak terasa air mataku mengalir membasahi kelopak mata. Saya tidak mampu menahannya ketika perlahan air mata jatuh ke lantai. Saya mencoba menyeka air mata dengan telapak tanganku. Saya tidak mungkin keluar dari kamar sebelum air mata kering.

Mana mungkin saya memberi uang dalam kondisi mata saya sembab habis menangis? Tentu akan menjadi pertanyaan dalam hati orang itu. Butuh waktu beberapa menit untuk membuat mata saya tidak seperti habis menangis. Saya merasa bahwa saya terlalu cengeng ketika harus berhadapan dengan orang yang perlu dibelaskasihani, orang yang menderita dan orang yang lagi kesusahan.

Sementara ego saya juga mengatakan uang itu diperlukan untuk kebutuhan keluargaku sendiri. Sangat berat untuk memberikan uang yang saya sendiri membutuhkan. Sedangkan kalau uang itu saya pertahankan untuk kebutuhan keluargaku, pun saya akan sedih bagaimana nasib mantan tetangga saya, jika saya tidak meminjami untuk modal.

Hanya dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menggantinya berlipat ganda itulah yang menguatkan saya untuk memberi pinjaman kepada orang itu. Itulah yang membuat saya meneteskan air mata. Ketika saya merasa yakin mata sudah tidak sembab, saya keluar dari kamar. Rasanya saya tidak mau menunda-nunda lagi untuk memberikan uang itu. “Maaf ini uangnya, mudah-mudahan ini bermanfaat!”, kataku sambil menyodorkan tangan untuk memberikan uang.

Terlihat dari raut wajahnya yang sumringah menunjukkan dia merasa senang dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Setelah itu dia langsung pamit pulang. Saya ceritakan sepenggal pengalamanku ini bukan untuk menonjolkan diri. Saya menyampaikan dalam tulisan ini, karena ini sungguh pengalaman batin yang sangat luar biasa efeknya.

Agar menjadi nasehat dan pengingat bagi diriku sendiri untuk tetap beramal sholih. Karena apalah artinya saya menyampaikan ini kepada pembaca yang sudah banyak ilmu dan amal sholihnya. Tapi saya lebih tidak berarti lagi jika tidak menyampaikan ini sebagai hikmah buat yang lain.

Karena sejak peristiwa itu, saya merasa di saat-saat saya menemui masalah, atau dalam kesulitan, saya punya keyakinan yang kuat ketika berdoa kepada Allah, bahwa doa saya pasti akan dikabulkan. Kalau saya, atas ijin Allah, bisa menolong orang dalam kondisi sulit, apalagi Allah Ar-Rozzaaq (Maha Pemberi RIzki), Al-Ghonii (Maha Kaya) dan Al-Mughni (Maha Mengayakan). Percayalah jika kita berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri.

2 responses to “Saya Pernah Menangis Ketika Akan Memberi Orang

  1. Ping-balik: Transcorp

  2. nice story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s