Everything is Quality & Quality is Everything

Oleh : Hadian Wibisono (Sekretaris II DPD LDII Karawang)

Quality is a way of life – whether you perform brain surgery, manufacture an automobile, prepare a pizza or make an audience laugh, do it right the first time. Kata-kata itu dikemukakan pada tahun 1984 oleh seorang pebisnis dan pakar quality management Philip Bayard Crosby (1926-2001) dalam bukunya Quality without Tears dia menggambarkan bahwa kualitas adalah bagaikan sebuah jalan hidup.

Namun ironisnya secara nyata dalam kehidupan sehari hari bahwa kualitas saat ini sudah kembali bergeser menjadi sebuah pilihan. Sebagai contoh sederhana misalnya seseorang pembeli telepon genggam atau handphone tidak lagi perlu berpikir lama untuk memilih jenis handphone yang akan dibelinya, yang pasti harganya murah, fiturnya lengkap dan stylist (”yang penting gaya”) tidak lagi perlu berpikir ulang apakah tahan lama, tahan banting, suara jernih, gambar jernih atau bahkan keamanan produk. Itulah satu contoh pergeseran makna kualitas saat ini.

Makna kualitas bukan hanya dapat dilokalisasikan hanya kepada barang, namun makna kualitas juga dapat dikayakan dalam istilah kehidupan.Istilah ”Hidup yang berkualitas” itulah impian semua orang, dimana setiap insan manusia yang normal sangat menginginkan kehidupan yang nyaman, sedikit masalah, hidup sehat, hidup bahagia,  keluarga yang harmonis,keturunan yang istimewa,  memilki fasilitas yang lengkap, dan lain sebagainya.yang tidak bisa ditulis satu-persatu bahkan oleh sorang ahli sekalipun ketika akan menggambarkan keinginan manusia.

Tapi yang menjadi masalah adalah,  kualitas hidup tidak akan bisa datang dengan sendirinya. Kualitas hidup akan menghampiri kita tatkala kita memiliki ”kualitas bekerja atau berusaha”, ”kualitas bertingkah laku”, ”kualitas akhlak atau moral”, ”kualitas pergaulan” dan ”kualitas mental”. Itulah hakikinya seorang manusia secara teori akan mendapatkan”kualitas hidup”nya.

Disisi lain ada sebagian orang yang menilai ”kulitas hidup” hanya terukur dengan materi artinya jika seseorang punya rumah bagus, mobil mewah dan uang banyak maka dikatakan ”hidupnya berkualitas”. Pendapat ini adalah sah-sah saja tergantung bagaimana ”makna” kualitas yang dimiliki orang yang bersangkutan. Seperti halnya pembeli handphone, menurut pembeli A handphone yang berkualitas itu ”yang kecil, simpel, awet,  mudah dibawa” karena dia berfikir bahwa handphone hanya untuk nelfon dan sms-an, namun menurut pembeli B handphone yang bekualitas itu adalah” harga murah, layarnya lebar, tombol besar, bisa terhubung ke internet, kalo rusak beli yang baru..toh murah!”.

Namun celakanya bila kita berbicara bahwa hidup berkualitas hanyalah dilihat dari sisi materi, maka tidaklah berlaku rumusan baku bahwa untuk medapatkan  ”kualitas hidup”  harus disertai kualitas akhlak, kulitas moral atau kualitas mental. Bahkan dengan tidak bermoralpun, dengan tidak berakhlak pun kualitas hidup bisa diraih. Inilah sisi buruk dari kesalahan dalam memaknai kualitas dari kehidupan.

Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa seorang Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W, adalah sebuah contoh nyata manusia yang memiliki ”Kualitas Hidup” paling tinggi. Beliau adalah seorang yang berkahlak paling mulia, bergaul dengan manusia-manusia mulia, memiliki keturunan yang mulia, dikenal sebagai saudagar/pedagang dan pebisnis yang sukses lagi dermawan yang senantiasa dicintai semua orang walaupun sudah wafat, lalu di contoh dan dijadikan suritauladan umat sampai akhir zaman. Inilah kualitas hidup yang istimewa, awet dan diminati semua manusia.

Sehingga pada intinya umat Nabi Muhammad S.A.W diajarkan bagaimana memiliki dan meraih kualitas hidup yang tinggi muka dibumi ini yakni kualitas hidup yang terukir dan diperoleh dari kualitas akhlak, kualitas moral, kualitas berusaha dan bekerja dan kualitas mental.

Kembali kepada kualitas produk. Dalam pembuatan sebuah barang produksi, agar kualitas produk tersebut tetap dijaga untuk tetap tinggi maka harus terus menerus di control atau dikendalikan, di improve atau ditingkatkan, dan di maintain atau dijaga/dipelihara. Hal ini tidak berbeda pula dengan kualitas hidup, untuk menjaga kualitas hidup, maka kualitas hidup harus di control, di improve dan di maintain, karena setiap manusia pasti menginginkan kualitas hidupnya semakin tinggi dan bukan semakin rendah. Banyak contoh orang yang sangat kaya-raya tiba-tiba jatuh miskin karena tersangkut kasus pidana, skandal sex atau kasus lainnya, atau banyak pesohor yang memiliki wibawa, dihormati namun tiba-tiba menjadi hina, dicemooh gara-gara melakukan tindakan yang tidak bermoral. Inilah contoh bagaimana kualitas hidup tidak di control,di improve dan di maintain, sehingga hanyalah menjadi sebuah kualitas hidup yang tidak awet danhanya sebatas “yang penting gaya”.

Lalu, bagaimana mengendalikan, meningkatkan dan menjaga kualitas hidup? Jika kita berpikir bahwa kualitas hidup hanyalah materi maka pertanyaan itu akan sulit untuk dijawab, namun jika kualitas hidup itu sudah terukir sendirinya dari kualitas akhlak, kualitas moral, kualitas berusaha dan kualitas mental, maka pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab karena Kulitas Hidup akan terjaga dan meningkat dengan sendirinya. Insya Allah.

If you say that the quality is a word for good or beauty you are not wrong, but if you say the quality is something the people always like, you are fully not wrong

———————–everything is quality and quality is everything——————-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s