LDII dan Perjalanan Sebuah Bangsa

image

Oleh: Irman Zufari (Aktifis LDII Karawang)

Runtuhnya era orde baru, dan masuknya era reformasi, membawa bangsa Indonesia pada babakan baru hampir dalam segala aspek, baik politik maupun social juga tidak tertinggal dalam berbudaya, bahkan dalam berideologi.

Ideology yang sangat diharamkan di era orde baru, dan nyata-nyata dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Sila Pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Pasal 29 UUD 45, Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang salah satu maknanya adalah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Ketuhanan, dan tidak boleh ada segelintir manusiapun yang tidak berketuhanan (ateis), apalagi menganut faham komunis, dimana bangsa ini telah memiliki sejarah kelam dengan faham tersebut.

Tetapi secara sekonyong-konyong kita tersadarkan bahwa kita telah memasuki era yang sangat berbeda, seratus delapun puluh delapan derajat berbeda. kita disadarkan oleh pernyataan ketua Mahkamah Konstitusi pada tanggal 10 Juli 2012 yang lalu, bahwa atas nama Hak Asasi manusia, ateis dan komunis boleh hidup di Indonesia.

Ini adalah konsekwensi logis dari sebuah demokrasi dan penegakan Hak Asasi Manusia, walaupun kita tentu dahulu tidak mengira akan seperti ini jadinya, it’s too far, kita menginginkan demokrasi dan penegakkan Hak Asasi Manusia, tetapi bukan yang seperti ini. Demokrasi dan Penegakkan hak Asasi manusia yang kita inginkan adalah yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, nasi sudah menjadi bubur, kita sudah “terlanjur” mengadopsi Piagam PBB tentang HAM secara bulat-bulat ke dalam UUD 45.

Beruntung LDII sebagai organisasi keagamaan telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan baik terhadap semua kemungkinan yang terjadi akibat terjadinya perubahan situasi politik bangsa, yang akan berimbas pada masalah, budaya dan ideology.

Dengan telah dicanangkannya tiga program kewaspadaan, yang pertama adalah mewaspadai terjadinya liberalisasi yang sebagian besar telah terindikasi ditunggangi kepentingan tertentu yang dapat meruntuhkan nilai-nilai agama, nasionalisme dan budaya bangsa. Kedua adalah mewaspadai timbulnya doktrin-doktrin atau faham-faham yang mengarah pada radikalisme (kekerasan) dengan mengatas namakan agama. Dan yang terakhir adalah mewaspadai muncul dan berkembangnya isu-isu yang dapat memancing kekerasan antar kelompok atau golongan masyarakat.

Dengan berbekal tiga kewaspadaan tersebut, LDII telah siap untuk menghadapi konsekwensi besar dari sebuah demokrasi dan penegakkan HAM, LDII sadar betul bahwa Islam yang sekarang telah menjadi sebesar ini adalah Islam yang lahir di tengah-tengah suasana kota Makkah dan Madinah di kuasai oleh Penyembah berhala dan orang-orang yang tidak mepercayai adanya tuhan, bahkan menentang keyakinan adanya Allah dan kewajiban untuk menyembah Allah.

Maka bagi LDII, perubahan situasi politik ini, sehingga diperbolehkannya penganut faham ateis dan komunis hidup di Indonesia, tidak terlalu mengejutkan.

Sebaliknya dengan tetap menghormati kebebasan beragama dan kebebasan untuk tidak beragama sebagaimana dimaksud dalam UUD 45 Pasal 28A – 28J. LDII telah siap untuk tetap terus melanjutkan perjuangan dakwahnya, sebagai wujud pengabdian dan peran serta pembangunannya kepada Bangsa dan Negara, dengan akan terus membina, amar ma’ruf nahi munkar terhadap golongan-golongan tersebut, sehingga mereka menjadi manusia-manusia yang mengenal dan menyembah kepada tuhannya, Allah subkhanahu wata’ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s